Berawal dari obrolan saya dengan kepala sekolah tentang rencana mengajak siswa/siswi SMP Islam Mentari Indonesia kelas VII Istanbul mengadakan kunjungan dan nonton bareng (nobar) Film Negeri 5 Menara (N5M) bersama kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan para guru-guru, bertempat di Bioskop 21 Grand Mall Bekasi akhirnya difollow up oleh wali kelas. Kegiatan ini sehubungan dengan pembelajaran berbasis multimedia (dalam hal ini film layar lebar), dan tugas sinopsis film pada pelajaran bahasa Indonesia. Banyak pelajaran yang bernilai edukatif dalam film N5M ini. Oleh karenanya kami memilih untuk nobar, dismping para siswa/siswi bisa refreshing selain itu juga mereka bisa mengambil hikmah, inspirasi, dan motivasi dari film tersebut.
Film yang bergenre pendidikan ini sangat bagus dan cocok untuk mereka tonton, karena banyak nilai, inspirasi serta motivasi yang bisa didapat dari film ini. Apalagi setting ceritanya tentang semangat belajar hingga meraih mimpi atau cita-cita. Cerita seputar Novel dan filmnya pun pastinya berlatar kehidupan dunia pendidikan (dalam hal ini pesantren) yang penuh dinamika. Dari mulai penanaman kedisiplinan, kemandirian belajar, kesungguhan dalam meraih cita-cita, hingga interaksi murid (santri) dan guru (ustadz). Ada adegan menarik dimana Alif cs (shahibul menara) terkena hukuman kedisiplinan saat terlambat datang ke masjid, humor ala Baso (santri asal Gowa) yang selalu menjadi inspirator bagi kawan-kawannya dan selalu semangat untuk menghafal Al-Qur’an serta bercita-cita menjelajah dunia seperti Ibnu Batutah.
Fluktuasi semangat yang sempat down juga dirasakan Alif yang sejak awal tidak ingin masuk ke pesantren sebagaimana keinginan orang tuanya. Persahabatan shahibul menara juga sempat goyah ketika Baso yang selalu menjadi motivator harus pulang lebih dulu ke kampungnya di Gowa karena harus merawat neneknya yang sedang sakit keras. Namun berkat kesungguhan, kegigihan, dan kesolidan mereka akhirnya mereka dapat menaklukannya.
| salah satu adegan dalam film N5M ketika shahibul menara menghadap Kyai Rais |
Kemandirian dan kesungguhan para shahibul menara (6 orang santri berkawan akrab yang selalu berkumpul di bawah menara masjid Pondok Madani) dalam meraih cita-cita yang terinspirasi dari ramuan mahfuzhot (pepatah bahasa Arab) “man jadda wajada”, (barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti dia dapat) sangat terasa di setiap adegannya. Bahkan film ini juga berisi beberapa kritik sosial. Kesederhanaan ustadz atau guru juga ditampilkan dalam adegan dimana Alif mewawancarai Kyai Rais (pimpinan Pondok Madani) dan ustadz-ustadz dengan pertanyaan “berapa gaji ustadz di Pondok Madani?”. Sang Kyai (diperankan oleh Ikang Fawzi) menjawabnya, “bahwa para ustadz di pondok madani tak mendapatkan gaji. Mereka sudah mewakafkan dirinya untuk berjuang di jalan Allah. Mereka adalah para guru yang ikhlas bekerja demi tegaknya agama Islam. Subhanallah…
Kemudian ada juga kisah puber ala remaja, ketika Alif kesemsem dengan seorang gadis keponakan dari Kyai Rais dan berkat perjuangan dari lima kawannya akhirnya dapat tercapai juga perkenalan dengan gadis bernama Sarah itu sebelum kembali ke kota asalnya di Yogyakarta.
Dalam pidato sambutannya kyai Rais menyampaikan bahwa Pondok Madani bukanlah tempat untuk belajar saja, melainkan juga untuk mendidik para santri menjadi kader-kader pemimpin bangsa dan ummat. Bahkan orang yang sukses menurut Kyai Rais bukanlah ketua partai, ormas, atau penguasa, melainkan orang yang siap mengamalkan ilmunya dimana saja sampai di pelosok-pelosok dunia.
Begitulah sekelumit cuplikan adegan yang disutradarai mas Salman Aristo sekaligus sebagai penulis skenario yang sudah tayang sejak 1 Maret 2012 lalu.







0 komentar:
Posting Komentar